Sabtu, 22 September 2007

Pemnasan Global, Petaka Peradaban Modern



Oleh: Thamrin Ananda

Zaman dulu, Gletser di Kutub Selatan mencair dalam waktu 1000 sampai 2000 tahun, tapi sekarang hanya butuh waktu seabad saja

Pemanasan global telah menjadi satu masalah besar di dunia dewasa ini. Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change), belum belum menjadi kesadaran multipihak di Aceh pada khususnya dan di dunia pada umumnya. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, terutama pihak pemerintah.

Pemicu utama perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming), adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Peningkatan emisi gas karbon telah melahirkan efek rumah kaca, ketika panas matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi tidak dapat menembus keluar dari atmosfer, ini terjadi karena panas yang ingin keluar itu terhalang oleh lapisan yang dibentuk oleh gas CO2 ini, sehingga permukaan bumi menjadi sangat panas yang pada gilirannya mempercepat cairnya es di kutub. Hal ini diperparah lagi dengan menipisnya lapisan ozon. Akibatnya, bumi mengalami perubahan siklus cuaca yang ekstrim, musim panas akan terasa lebih panas, musim dinginpun akan terasa lebih dingin, dan perpindahan musim menjadi tidak dapat diperkirakan lagi.

Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang atau negara-negara dengan konsep ekonomi kapitalisme--neoliberalisme. Ini juga diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Pola hidup yang konsumtif juga disebabkan oleh besarnya intervensi industri atau pemilik modal dalam mempengaruhi gaya hidup konsumtif, seperti melalui iklan untuk menjual barang-barang sebanyak-banyaknya agar perusahaan meraih keuntungan yang besar. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme yang mengabaikan aspek ramah lingkungan dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil), dan sekarang sebuah rencana besar sedang digarap oleh para kaum imperialime di Nagan raya untuk membuat pembangkit tenaga listrik dari batu bara, maka akan melahirkan pemanasan global. Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat
yang rusak hutannya.

Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis. Jika ini kita kaitkan dengan wilayah Indonesia tentu sangat terasa, begitu juga dengan kota-kota yang dulunya dikenal sejuk dan dingin makin hari makin panas saja.

Contohnya di Jawa Timur bisa kita rasakan adalah Kota Malang, Kota Batu, Kawasan Prigen Pasuruan di Lereng Gunung Welirang dan sekitarnya, juga kawasan kaki Gunung Semeru. Atau kota-kota lain seperti Bogor Jawa Barat, Ruteng Nusa Tenggara, adalah daerah yang dulunya dikenal dingin tetapi sekarang tidak lagi. Begitu juga dengan Aceh yang dulunya hampir seluruh wilayah dingin sekarang malah telah menjadi sangat panas, khusnya daerah Aceh tengah dan sekitarnya.

Meningkatnya suhu ini, ternyata telah menimbulkan makin banyaknya wabah penyakit endemik “lama dan baru” yang merata dan terus bermunculan; seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, malaria. Padahal penyakit-penyakit seperti malaria, demam berdarah dan diare adalah penyakit lama yang seharusnya sudah lewat dan mampu ditangani dan kini telah mengakibatkan ribuan orang terinfeksi dan meninggal. Selain itu, ratusan desa di pesisir Aceh barat terancam tenggelam akibat naiknya permukaan air laut.

Untuk negara-negara lain meningkatnya permukaan air laut bisa dilihat dengan makin tingginya ombak di pantai-pantai Asia dan Afrika. Apalagi hal itu di tambah dengan melelehnya gleser di gunung Himalaya Tibet dan di kutub utara. Di sinyalir oleh IPCC hal ini berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 meter pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu ini bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim yang sudah bisa kita rasakan sekarang dengan musim hujan yang makin pendek sementara kemarau semakin panjang.

Perubahan iklim juga melahirkan persoalan baru di kalangan petani, musim hujan yang semakin pendek akan mengakibatkan kekeringan yang panjang. Hal ini akan membuat pertanian mengalami kekeringan. Sehingga bahaya kelaparan akan terus mengancam di dunia termasuk di Aceh.

Anacaman dari pemanasan global ini harus menjadi tanggung jawab kita semua, karena ini selain disebabkan oleh keserakahan para pemilik modal melalui industrinya, juga disebabkan oleh gaya hidup yang konsumtif, yang mengkomsumsi segala sesuatu yang menghasilkan emisi gas karbon yang tinggi.

Maka untuk mengatisipasi hal tersebut, pola hidup yang konsumtif harus ditinggalkan, untuk menyelamatkan dunia dari ancaman seperti yang telah diutarakan di atas. Selain itu industri yang bisa menghasilkan emisi gas karbon harus mulai dikurangi atau dengan cara mencari alternatif jalan keluar untuk menggerakkan industri tampa menghasilkan emisi gas karbon yang berlebihan.

Untuk hal ini kita berupaya diversifikasi dibidang energi terus digalakkan. Ini adalah salah satu cara alternatif untuk mengurangi emisi gas karbon. Dan ternyata, beberapa sumber energi lainnya sangat aman dan ramah terhadap lingkungan. Sebut saja, penggunaan energi surya untuk pemanas, pembangkitan listrik hingga sumber tenaga kendaraan bermotor. Untuk dua contoh pertama yang saya sebutkan diatas bahkan sudah sejak lama digunakan di beberapa tempat. Hanya soal publikasi dan produksi massalnya yang perlu dipikirkan. Sementara untuk kendaraan bertenaga surya, hingga kini masih dalam riset lanjutan. Yang jelas, di Jepang dan Jerman sudah ada prototype mobil bertenaga surya yang mampu melaju hingga lebih dari 150 km per jam.

Teknologi ramah lingkungan seperti inilah yang perlu dikembangkan. Langkah jangka panjang untuk menyelamatkan masa depan juga harus didukung oleh pemerintah untuk mendorong perguruan tinggi melakukan berbagai riset yang mampu melahirkan berbagai alternatif dalam mengurangi emisi gas karbon. karena bagaimanapun juga “sakitnya” bumi seperti saat ini secara langsung maupun tidak langsung akibat kemajuan teknologi yang diciptakan oleh mereka sendiri dan ulah dari tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti penebangan hutan secara berlebih-lebihan. Maka kebijakan jeda tebang hutan harus mendapatkan dukungan dari semua pihak.

Selain alternatif yang disebutkan diatas menghindari pola hidup yang konsumtif merupakan satu tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh seluruh umat manusia di dunia ini, serta mendorong para pemilik modal untuk tidak serakah dalam menggerakkan industrinya, yang hanya bertujuan untuk meraih keuntungan yang besar. Sistem ekonomi kapitalisme yang bertumpu pada industri dengan penguasaan alat-alat produksi secara sepihak juga merupakan hal yang harus kita hentikan secara bersama-sama. Semoga kita semua mampu menyelamatkan bumi ini dari ancaman pemanasan global.